Apakah Politik Itu Indah???

Lika-liku perpolitikan Indonesia dimulai dengan terbentuknya gerakan para pemuda pada masa prakemerdekaan Indonesia. Banyaknya bermunculan organisasi pemuda pada waktu itu menyebabkan rasa cinta dan semangat kemerdekaan dari penjajahan yang terlanjur telah mendarah daging dengan segala kebenciannya tumbuh dengan cepatnya. Masa-masa indah ketika terjadinya persatuan persepsi bahwa seluruh organisasi tersebut beserta elemennya harus segera bergerak mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada waktu itu, tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk menata dan menyatukan persepsi ditengah tekanan dan segala keterbatasan dari penjajah. Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman kultur social-budaya, hal ini membuat Indonesia begitu besar dalam hal kebudayaan. Perjalanan perpolitikan Indonesia memang dirasakan begitu berliku-liku. Pada masa presiden Soekarno, ia dinilai begitu terbukan dan diplomat yang baik sehingga banyak Negara yang “mendekati” Indonesia pada masa itu. Misalnya saja Uni Soviet, mereka “mendekati” dengan berbagai kerjasama disegala bidang mulai dari kebudayaan, teknologi, sampai “ideology”. Hal ini tentunya sangat membahagiakan karena suatu Negara yang baru nongol dapat diajak kerjasama dengan salah satu Negara adidaya pada waktu itu. Banyak sekali bukti komitmen dari kerjasama dengan Uni Soviet yang dirasakan oleh Indonesia, misalnya saja stadium gelora bung karno senayan yang memiliki konstruksi bangunan yang sangat baik pada waktu itu dan tentunya sangat membanggakan Indonesia dengan kemegahan dan besarnya kapasitas bagi penonton yang mencapai 100.000 penonton, selain itu banyak juga patung-patung karya seniman Uni Soviet yang menjadi symbol diberbagai taman di jakarta. Selain kerjasama social-budaya terdapat pula kerjasama “ideology” yang dinilai berbagai pihak menjadi cikal-bakal keruntuhan era Soekarno, lihat saja pengaruh arus ideology ini ditengah masyarakat pada waktu itu. Banyak masyrakat yang serta merta langsung menganggap ideology inilah yang paling sesuai dengan kultur budaya kita karena asas keadilannya yang sangat baik, tetapi disisi lain sebagian masyarakat ini tidak sadar bahwa mereka telah mempertaruhkan kemurnian dari nilai-nilai pancasila yang mereka setujui sebelumnya. Inilah potret kelam dari perpolitikan era Soekarno, era ini kemudian dikenal dengan orde lama.

Setelah masa kepemimpinan Soekarno berakhir, kemudian dilanjutkan dengan kepemimpinan Soeharto. Soeharto dinilai sebagai orang yang berlatar belakang militer yang tentunya memiliki jiwa disiplin tinggi dan “keras”, masalah pertama yang muncul ialah penumpasan seluruh hal-hal yang berbau ideology Uni Soviet (komunis), banyak kalangan yang mendukung program ini tetapi disisi lain pelakanaan dari program ini terkesan menjadi diskriminatif terhadap para penganut faham ideology tersebut. Penculikan, pengucilan dari masyarakat, penyiksaan, sampai pembunuhan merupakan cara yang dipakai Soeharto untuk menumpas habis ideology ini di tanah air sampai dengan akar-akarnya, sampai-sampai cucuk dari penganut faham ideology tersebut pun menjadi sangat terasing dengan masyarakat. Soeharto melakukan program ini dengan alas an menjaga stabilitas Negara dan menjaga nilai pancasila. Sedikit masih ada baiknya program ini, jika saja program ini tidak dilakukan boleh jadi sekarang Indonesia menjadi salah satu Negara komunis terbesar di dunia. Masa pemerintahan Soeharto relative stabil dan tanpa “godaan” dari masyrakat. Hal ini dapat terjadi dikarenakan Soeharto memiliki serangkaian strategi diantaranya kuatnya BIN ( Badan Intelligen Indonesia) pada waktu itu, sehingga masalah social sekecil apapun yang terjadi dalam masyarakat dapat diketahui dan dapat ditanggulangi dengan cepatnya sehingga tidak menimbulkan polemic di tengah masyarakat. Salah satu strategi lainnya ialah pembangunan yang terencana dan terukur sehingga perjalanan dan arah pembangunan sangat jelas, dalam hal ini Indonesia pernah mendapatkan penghargaan dari PBB. Memang banyak sekali kemajuan Indonesia pada masa kepemimpinan Soeharto, tetapi banyak kalangan menyesalkan sikap Soeharto yang “arogan” dalam berbagai kebijakannya. Kini banyak masyarakat, umumnya kaum miskin, menyadari bahwa banyak sekali kebijakan Soeharto yang sangat pro rakyat dan “menekan” pengusaha. Inilah sebagian kecil dari potret kepemimpinan politik seorang Soeharto, kemudian era kepemimpinan Soeharto dikenal dengan sebutan orde baru.

Mundurnya Soeharto dari kursi kepemimpinan Indonesia, setelah menjabat sebagai presiden selama 32 tahun, oleh paksaan rakyat yang sangat tidak puas dengan model kepemimpinan Soeharto, menyebabkannya rela menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden B.J. Habibie. Pergolakan mencari jati diri bangsa dimulai kembali pada awal era ini, banyak kalangan keluar dari “pertapaannya” untuk berebut kekuasaaan yang bisa dibilang kosong ini. Ditengah pergolakan politik ini muncullah sosok bernama Amein Rais dari kalangan mahasiswa, yang berdiri ditengah-tengah mahasiswa dalam upaya menuntut mundur Soeharto. Setelah mundurnya Soeharto, para kalangan berupaya mencari bentuk pemerintahan yang dapat membawa aspirasi rakyat, kemudian disetujuilah konsep multipartai dengan konsep pemilihan umum langsung. Ini merupakan proses pendidikan demokrasi yang cukup baik bagi masyarakat, dimana rakyat diberi kepercayaan memilih pemimpinnya secara langsung. Dari sinilah awal terjadinya berbagai konflik kepentingan muncul. Banyaknya partai peserta pemilu pada pemilu 2004 menyebabkan persaingan antar partai sangat tinggi. Dimulai dari seorang menteri yang keluar dari cabinet incumbent dan membentuk partai biru lalu partai itu memenangkan pemilu. Ketidakpercayaan yang terjadi membuat partai merah “marah” dan menjadi oposisi dalam pemerintahan selanjutnya. Keputusan ini membuat partai merah selalu menjadi sorotan public atas keputusannya menjadi oposisi. Dapat kita akui bahwa partai merah selama ini telah dengan cukup baik menjadi oposisi dan selalu kritis atas keputusan pemerintah, tetapi karena kuatnya partai biru di parlemen, karena didukung oleh partai kuning, partai hitam, dan partai lainnya, maka pemerintahan dapat berjalan dengan stabil.

Keadaan itu sedikit banyak telah berubah pada proses pemilu 2009. banyak manufer-manufer politik yang tadinya banyak kalangan tidak akan menyangka suatu koalisis dapat terbentuk, maka pada pemilu 2009 hal itu telah terjadi dengan segala dinamikanya. Misalnya saja partai kuning dan partai merah, siapa sangka mereka dapat berkoalisi. Padahal jika kita melihat track record hubungan antara dua partai ini, maka kita akan mendapati bahwa banyak sekali konflik antara dua partai ini. Intulah seni dalam politik, kita tidak akan mendapatkan teman dan musuh yang abadi, yang tidak dapat disangkal. Kemudian tidak kalah hebohnya, terjadi koalilsi besar yang melibatkan empat partai besar dan beberapa partai kecil untuk melawan incumbent yang berkoalisi dengan beberapa partai menengah, seperti partai hitam dan partai biru-muda. Keindahan merupakan suatu pandangan menyeluruh tanpa batas yang hanya dapat dirasakan dengan hati yang jernih dan jujur serta relative, maka apakah politik itu indah??? Jawabannya ialah indah, selama tugas mulia yang telah diamanatkan oleh rakyat dapat dijalankan dengan penuh kejujuran , tanggung jawab, nilai-nilai luhur bangsa, serta berjalan bersama dengan semua pihak dalam republic Indonesia ini……jika tidak seperti itu maka politik tentunya merupakan barang kotor yang mesti Anda jauhi!!!

* tulisan ini merupakan refleksi seorang anak bangsa dalam melihat fenomena politik dan tanpa maksud membela maupun mencela pihak manapun.

::. Jadilah Pemilih yang Cerdas dan Arif ::.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s