Ihsan solusi konflik

Kalau kita ngeliat media massa beberapa minggu ini, isinya ialah konflik, konflik dan konflik. yang jadi permasalah ketika konfliknya mengarah ke SARA(Suku Agama Ras dan Anatomi / Antar golongan).

Indonesia sebagai negara yang beragama, dan dalam falsafah bangsa kita pun, pancasila, pilar pertamanya ialah berkaitan dengan ke-Tuhan-nan. seharusnya bagi seorang yang beragama dapat mengimplementasi nilai-nilai keagamaannya dalam kebaikan(ihsan). agama tentunya menjadi pedoman bagi kehidupan kita dan pasti mengajarkan kebaikan kepada kita. kalau denger istilah kebaikan, gw kadang langsung inget kisah Rasulullah (sayyidina Muhammad ibn Abdullah) yang waktu gw kecil sering diceritain aba (baca:ayah) gw, tentang kisah sang rasul berhadapan dengan penentang2 kebaikannya.. silahken baca kisahnya deh (+- kisahnya seperti ini):

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah, seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, meskipun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama "Muhammad". Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?" Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah, hampir tak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha. Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah engkau ?". Abubakar r.a menjawab,

"Aku adalah orang yang biasa". "Bukan !!!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a., ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya,namun ia tak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Itulah kisah yang bagi  gw cukup menjawab solusi hubungan beragama. Apakah rasul menghujat pengemis itu?. andaipun rasul ingin, ia bisa saja. bahkan ia dapat berdoa kepada Allah SWT agar pengemis itu dicabut nyawanya, tapi apa yang rasul lakukan? ia merespon kejahatan dengan kebaikan. ada satu pepatah arab yang kurang lebih kayak gini. andai ia tahu, ia tak akan berlaku seperti itu. bagi gw maksudnya kita jangan menhakimi orang lain dengan pengetahuan kita yg sangat terbatas, untuk menilai orang lain cobalah tidak hanya dari sudut pandang kita tetapi cobalah berfikir andai kita pada posisi dia, apa yang kita lakukan?

Konflik pasti akan terjadi andai kedua pihak atau salah satu pihak kurang memahami substansi permasalah. boleh jadi ada kesalahan informasi, tidak tepatnya informasi ataupun perubahan informasi oleh pembuat orang yang memiliki kepentingan atas konflik tersebut. yang saya fahami, dalam islam terdapat istilah taqlid yang berarti mengikuti. maksudnya ialah kita mengikuti pendapat seorang ulama/kelompok ulama mengenai hukum-hukum dalam islam. ada pendapat yang mengatakan bahwa boleh taqlid secara total tanpa berusahan mencari tahu sebab-sebab pengambilan keputusan hukum tersebut. selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa boleh taqlid tetapi itu sebatas temporer, setelah ia mengikuti hukumnya lantas ia mencari tahu sebab pengambilan keputusan hukum tersebut. kalau gw sih mencoba dan terus menoba ikut pendapat yang kedua, karena kita diberikan akal oleh Allah SWT untuk berfikir dan pastilah kebaikan itu bersumber dari Allah SWT. lantas pertanyaannya, apakah kita tahu kebaikan yg hakiki? menurut gw, ketika kita mencari tahu tentang sebab-sebab keputusan hukum, selain membaca kita juga harus bertanya. bertanyalah kepada beberapa orang anda fikir faham hukum agama, bukan untuk membandingkan tapi ini untuk mengetahui ragamnya pendapat dalam menetapkan hukum. setelah itu semua barulah serahkan pada diri kita untuk menetukan pendapat yang kita taqlid. dengan begitu, kita tidak akan lagi menghujat atau menghakimi pendapat orang lain. karena perbedaan selama dalam “kotak”-nya tidaklah apa-apa.

fanatisme sejak dahulu kala sering dijadikan alat politik oleh beberapa pihak, ini benar terjadi. misalnya saja, ketika konflik berkepanjangan indonesia – papua barat. banyak labeling terhadap indonesia oleh oknum papua barat salah satunya:  jawanisasi dan islamisasi. timbulnya istilah ini untuk menumbuhkan semangat kesukuan dan keagamaan mereka untuk dijadikan alat perlawanan oknum papua barat.. ini sering kali disebut management emosi massa. andai oknum di papua barat sana dan pemerintah indonesia mengetahui hal yang menjadi substansi dasar bagi kehidupan masyarakat papua barat. maka, sekarang tidak akan ada negara timur leste! substansi dasarnya ialah bahan pokok makanan, pendidikan, dan kedamaian. dimana tanah papua adalah tanah kaya tetapi diserahkan begitu saja ke pihak asing oleh pemerintah tanpa ada upaya peningkatan sumber daya manusia papua.

solusi dari konflik yang kini terjadi, menurut gw.. jangan terburu2 ngambil keputusan dan setelah data didapat dengan tepat dan akurat. tindaklah yang melanggar tanpa pandang bulu. terakhir tetaplah tersenyum karena itu kebaikan dan setiap kebaikan membawa kedamaian. Smile

sumber cerita : http://angling-z.blogspot.com/2007/12/kisah-rasulullah-saw-dan-seorang_07.html

3 thoughts on “Ihsan solusi konflik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s